Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific
Berita  

Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan Muncul di Daerah Banjir Sumatera

Inflasi dan Kenaikan Harga
Skintific

Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan Muncul di Daerah Banjir Sumatera

Media Pematangsiantar – Inflasi dan Kenaikan Harga Sejumlah daerah di Pulau Sumatera, khususnya yang terdampak banjir besar pada awal tahun 2026, kini menghadapi dampak tambahan berupa kenaikan harga pangan yang signifikan. Kenaikan harga ini dipicu oleh gangguan pasokan pangan akibat infrastruktur yang rusak dan terhambatnya distribusi barang. Inflasi yang sudah mengkhawatirkan ini semakin terasa bagi masyarakat yang sudah kesulitan akibat dampak bencana alam tersebut.

Kondisi ini membuat ekonomi lokal, terutama di wilayah yang terdampak banjir seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Jambi, semakin tertekan. Para petani, nelayan, serta pedagang mengalami kesulitan dalam mengakses pasar atau menjual hasil produk mereka, sementara harga barang pokok semakin melambung. Menurut para ahli, hal ini berpotensi memperburuk angka inflasi di wilayah tersebut, dengan dampak yang semakin meluas bagi daya beli masyarakat.

Skintific

Banjir dan Gangguan Pasokan Pangan

Banjir yang melanda wilayah Sumatera pada bulan Januari 2026 mengakibatkan rusaknya infrastruktur transportasi, termasuk jembatan dan jalan yang menghubungkan daerah-daerah penghasil pangan dengan pusat-pusat pasar. Dampak langsungnya adalah terhambatnya distribusi bahan pangan, seperti beras, sayuran, dan daging, yang seharusnya tiba di pasar-pasar kota.

Di daerah-daerah yang terendam banjir, petani juga harus menghadapi rusaknya tanaman mereka. Sawah dan ladang yang terendam air merusak hasil panen, sementara stok pangan yang sebelumnya ada di gudang-gudang distribusi terkena banjir dan rusak. Hal ini menyebabkan kelangkaan pangan lokal dan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan pokok.

“Sayuran dan beras yang biasanya kami dapatkan dengan harga terjangkau kini harganya melonjak. Misalnya, harga cabai naik hampir dua kali lipat dalam seminggu terakhir. Ini sangat mengganggu, karena kami yang bekerja di sektor informal sangat bergantung pada harga-harga yang stabil,” ungkap Siti, salah seorang ibu rumah tangga di Padang, yang mengeluhkan kenaikan harga pangan.Inflasi dan Kenaikan Harga Pangan Muncul di Daerah Banjir Sumatera

Baca Juga: Rumah Kosong di Bantul Terbakar Saat Warga Usir Tawon Vespa

Inflasi dan Kenaikan Harga Kenaikan Harga Pangan yang Mengkhawatirkan

Beberapa harga pangan yang mengalami lonjakan signifikan di beberapa pasar tradisional dan modern di Sumatera antara lain adalah cabai, bawang merah, dan bahan pokok lainnya seperti beras dan telur. Menurut data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sumatera Barat, harga cabai merah segar bahkan tercatat naik hingga 80% dalam waktu kurang dari dua minggu, dari Rp30.000 per kilogram menjadi lebih dari Rp50.000 per kilogram.

Selain itu, komoditas lain seperti beras dan minyak goreng juga mengalami kenaikan harga yang signifikan. Hal ini membuat masyarakat yang sebagian besar bergantung pada pendapatan harian semakin sulit mengakses bahan pangan yang mereka butuhkan. Dalam laporan yang diterima dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di wilayah Sumatera Barat tercatat meningkat tajam, mencapai 5,5% pada Januari 2026, jauh di atas rata-rata inflasi nasional yang berada di angka 3,2%.

Dampak Inflasi Terhadap Daya Beli Masyarakat

Kenaikan harga pangan yang disertai dengan inflasi yang meningkat, membuat daya beli masyarakat di daerah-daerah terdampak bencana semakin rendah. Kebutuhan pokok menjadi lebih mahal, sementara pendapatan masyarakat banyak yang berkurang akibat dampak banjir dan kerusakan sektor pertanian dan perikanan.

Di wilayah pesisir Sumatera Selatan, misalnya, nelayan yang biasanya bisa menangkap ikan dalam jumlah besar kini kesulitan keluar ke laut akibat kerusakan infrastruktur dan cuaca buruk. Hal ini membuat stok ikan berkurang dan harga ikan naik tajam.

“Biasanya saya bisa menjual ikan dengan harga Rp30.000 per kilogram, sekarang harganya naik jadi Rp50.000. Kami kesulitan, karena masyarakat yang biasa membeli ikan segar sekarang lebih memilih membeli bahan pokok lain yang lebih murah,” kata salah seorang nelayan, Ahmad, yang terdampak langsung oleh kenaikan harga.

Inflasi dan Kenaikan Harga Langkah Pemerintah Mengatasi Krisis Pangan

Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan mulai melakukan langkah-langkah untuk mengatasi lonjakan harga pangan.  Selain itu, pemerintah juga membuka akses distribusi yang lebih luas bagi petani dan pedagang yang terdampak bencana untuk segera memulihkan pasokan pangan.

“Untuk mengatasi lonjakan harga, kami telah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk mendistribusikan bahan pangan yang cukup dan menjamin ketersediaan pasokan.

Pemerintah juga telah mengirimkan bantuan logistik untuk para petani dan nelayan yang terdampak banjir. Bantuan tersebut berupa benih padi, peralatan pertanian, serta alat tangkap ikan untuk membantu mereka kembali melanjutkan produksi pangan.

Optimisme Pemulihan dan Keterlibatan Masyarakat

Meskipun situasi ekonomi di daerah terdampak banjir ini cukup menantang, banyak pihak yang optimis bahwa situasi akan segera membaik dengan adanya upaya pemulihan yang terkoordinasi.

Beberapa komunitas tani lokal di Sumatera telah bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menanam bahan pangan lokal yang lebih tahan terhadap bencana alam, serta meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

“Ketahanan pangan itu harus dimulai dari rumah kita masing-masing. Banyak masyarakat yang terpengaruh dengan harga bahan pangan yang melonjak, tetapi kami berharap melalui upaya bersama ini, kami bisa saling mendukung agar tidak ada yang kekurangan pangan,” ujar Rika, seorang petani yang juga aktif dalam kegiatan penyuluhan ketahanan pangan di daerahnya.

Penutupan

Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan ketahanan pangan tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.

Skintific