Demi Raup Suara Pemilu Kandidat PM Thailand Usulkan Wanita Boleh Punya 4 Suami
Media Pematangsiantar – Demi Raup Suara Pemilu Dalam upaya untuk menarik perhatian pemilih menjelang pemilihan umum (Pemilu) Thailand, salah satu kandidat calon perdana menteri (PM) Thailand, Chaturon Chaisang, mengusulkan kebijakan yang sangat kontroversial: memberikan hak kepada wanita untuk memiliki empat suami sekaligus. Usulan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai kalangan di Thailand, baik dari pihak pemerintah maupun kelompok masyarakat. Meskipun demikian, Chaturon, yang merupakan mantan menteri pendidikan dan anggota partai oposisi, tetap membela ide tersebut dengan alasan bahwa itu adalah langkah untuk mendorong kesetaraan gender dan memberikan kebebasan lebih kepada wanita dalam kehidupan pribadi mereka.
Usulan ini muncul sebagai bagian dari kampanye kandidat PM yang berfokus pada perubahan sosial yang lebih progresif di Thailand. Menurut Chaturon, kebijakan ini akan memberikan lebih banyak pilihan bagi wanita untuk menentukan jalur hidup mereka, serta memungkinkan mereka untuk mendapatkan dukungan emosional dan finansial dari lebih dari satu pasangan.
Mengapa Usulan Ini Muncul?
Menurut Chaturon, usulan kebijakan ini berakar dari keinginannya untuk menciptakan keadilan sosial yang lebih besar di negara yang memiliki struktur patriarki yang cukup kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak wanita di Thailand menghadapi tantangan dalam menjalani peran tradisional sebagai ibu rumah tangga, sekaligus bekerja untuk mencari nafkah. Oleh karena itu, Chaturon berargumen bahwa poligami wanita bisa memberikan keleluasaan bagi wanita untuk mengatur kehidupan pribadi mereka dan mengurangi ketergantungan pada sistem patriarki yang ada.
“Ini adalah langkah untuk memberikan hak lebih kepada wanita, untuk membuat mereka lebih bebas dalam memilih pasangan hidup mereka, dan memberi mereka kontrol lebih besar atas kehidupan pribadi mereka,” ujar Chaturon dalam sebuah wawancara di Bangkok Post.
Chaturon juga mengklaim bahwa kebijakan ini dapat membantu menciptakan struktur keluarga yang lebih fleksibel dan sesuai dengan perkembangan zaman, yang menurutnya semakin memerlukan kompromi dalam hubungan pribadi.
Baca Juga: Iran Tegaskan Siap Perang jika AS Pilih Opsi Militer
Kontroversi Usulan Poligami untuk Wanita
Usulan untuk memperbolehkan wanita memiliki lebih dari satu suami langsung memicu kontroversi. Banyak yang mempertanyakan apakah kebijakan ini benar-benar dapat membawa manfaat bagi wanita atau justru menambah kompleksitas dalam hubungan keluarga dan sosial.
Sirintra Wongsawan, seorang aktivis hak perempuan di Thailand, dengan tegas menentang usulan tersebut. Menurutnya, kebijakan ini justru bisa memperburuk ketidaksetaraan gender yang sudah ada, karena poligami — yang biasa dilakukan oleh pria — sudah lama dianggap sebagai simbol dominasi laki-laki terhadap perempuan dalam banyak budaya.
“Jika poligami dibolehkan bagi wanita, itu justru akan memperburuk ketidaksetaraan yang sudah ada. Kami harus fokus pada kebijakan yang menuntut kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, bukan membiarkan struktur patriarki semakin kuat dengan memberikan kebebasan lebih pada pria dan wanita dalam hal memiliki lebih dari satu pasangan,” ujar Sirintra dalam sebuah wawancara dengan media lokal.
Selain itu, banyak kalangan yang khawatir bahwa kebijakan ini akan memicu ketegangan sosial dan konflik dalam kehidupan rumah tangga. Pria dan wanita yang terlibat dalam sistem poligami bisa menghadapi masalah psikologis dan sosial terkait kecemburuan, hak waris, dan status hukum dalam masyarakat.
Tanggapan Pemerintah dan Pihak Berwenang
Pihak pemerintah Thailand yang dipimpin oleh Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha langsung menanggapi usulan ini dengan skeptis. Juru bicara pemerintah, Thanakorn Wangboonkongchana, mengungkapkan bahwa meskipun setiap kandidat pemilu berhak untuk mengajukan ide-ide mereka, tetapi kebijakan yang mengubah struktur sosial dan budaya yang sudah ada harus sangat hati-hati dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Thailand adalah negara yang menganut prinsip-prinsip keseimbangan sosial, dan kebijakan seperti itu bisa menimbulkan perpecahan lebih lanjut di masyarakat.”
Thailand mayoritas penduduknya beragama Buddha, yang cenderung menentang poligami.
Demi Raup Suara Pemilu Kritik dari Kelompok Sosial dan Agama
Bahkan di luar kalangan politik, banyak kelompok sosial dan agama yang menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap ide ini. Wat Phra Dhammakaya, salah satu organisasi Buddha terbesar di Thailand, mengingatkan bahwa ajaran agama Buddha sangat menekankan pada keseimbangan dalam hubungan suami-istri dan tidak mendukung poligami dalam bentuk apapun.
Selain itu, banyak juga yang mempertanyakan apakah kebijakan ini akan menimbulkan permasalahan sosial yang lebih besar, seperti ketegangan keluarga dan masalah hukum terkait warisan. “Jika wanita bisa memiliki empat suami, bagaimana sistem warisan akan bekerja? Bagaimana dengan hak-hak anak-anak yang terlibat dalam hubungan tersebut?” tanya Dr. Somchai Prasertsuk, seorang ahli hukum keluarga di Thailand.
Demi Raup Suara Pemilu Dampak terhadap Pemilu Thailand
Namun, usulan ini juga bisa berisiko besar bagi popularitasnya di kalangan pemilih konservatif yang dominan di Thailand. Jika terlalu banyak pihak yang menentang ide ini, bisa jadi hal itu malah berdampak negatif terhadap dukungan yang Chaturon dapatkan dalam pemilu yang semakin dekat.
Kesimpulan: Kontroversi yang Memanas Menjelang Pemilu
Usulan Chaturon Chaisang untuk membolehkan wanita memiliki empat suami sebagai bagian dari platform pemilu memang mengundang banyak perdebatan. Di satu sisi, itu mencerminkan dorongan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada wanita dalam hal pilihan hidup pribadi, namun di sisi lain, ide tersebut bisa menambah ketegangan dalam masyarakat yang sudah terbelah antara yang mendukung dan yang menentang.












