Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific
Berita  

Thailand Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata adahal Baru 10 Hari

Thailand Tuduh Kamboja Langgar
Skintific

Thailand Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata, Padahal Baru 10 Hari Berlaku

Media Pematangsiantar – Thailand Tuduh Kamboja Langgar Ketegangan kembali meningkat antara Thailand dan Kamboja setelah Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata yang baru saja disepakati antara kedua negara. Tuduhan ini muncul setelah serangan terhadap wilayah perbatasan yang melibatkan militer Kamboja, meskipun gencatan senjata tersebut baru berlaku 10 hari setelah kesepakatan dicapai.

Gencatan Senjata yang Baru Disepakati

Gencatan senjata tersebut diberlakukan pada 25 Desember 2025, setelah beberapa minggu terjadinya pertempuran sengit di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja, khususnya di sekitar Kawasan Kamboja Timur. Pertempuran itu dipicu oleh sengketa lama mengenai wilayah perbatasan yang melibatkan Candi Preah Vihear, yang telah menjadi sumber ketegangan antara kedua negara selama bertahun-tahun.

Skintific

Setelah beberapa pertemuan diplomatik, kedua negara sepakat untuk mengakhiri aksi kekerasan dengan memulai proses gencatan senjata yang diharapkan dapat membawa stabilitas di wilayah yang rawan konflik tersebut. Gencatan senjata ini merupakan bagian dari upaya untuk memperbaiki hubungan bilateral yang sempat tegang dan menjaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

Tuduhan Langgar Gencatan Senjata

Namun, pada 5 Januari 2026, Pemerintah Thailand menyatakan bahwa pasukan militer Kamboja telah melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang baru saja disepakati. Pihak Militer Thailand mengklaim bahwa serangan terjadi di wilayah perbatasan yang terletak sekitar 20 kilometer dari Candi Preah Vihear, yang menjadi titik konflik utama.

Menurut pernyataan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Jenderal Somchai Phattanacharoen, serangan yang dilakukan oleh pasukan Kamboja pada 4 Januari 2026 melibatkan penggunaan senjata berat dan menyebabkan beberapa kerusakan pada pos-pos pertahanan Thailand. Meskipun tidak ada korban jiwa, serangan tersebut dipandang sebagai pelanggaran terhadap komitmen gencatan senjata yang baru saja dimulai.Belum 24 Jam Damai, Thailand Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata

Baca Juga: Bentrokan TNI Vs Brimob Pecah Usai Laga Sepak Bola di Buton Selatan

Thailand Tuduh Kamboja Langgar Tanggapan Kamboja: Klaim Tidak Berdasar

Pemerintah Kamboja membantah keras tuduhan yang dilontarkan oleh Thailand. Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Kamboja, pihak Kamboja menegaskan bahwa mereka tidak melanggar gencatan senjata dan tidak ada serangan yang dilancarkan oleh pasukan Kamboja setelah kesepakatan tersebut dibuat. Mereka mengklaim bahwa militer Thailand justru lebih dahulu melakukan provokasi di sepanjang perbatasan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja, Phat Sareth, menyatakan bahwa klaim Thailand adalah provokasi yang tidak berdasar. “Kami menegaskan bahwa pasukan Kamboja tidak terlibat dalam pelanggaran gencatan senjata. Justru, kami telah menerima laporan bahwa pasukan Thailand yang melancarkan serangan. Kamboja berkomitmen penuh untuk menjaga perdamaian dan akan segera melakukan klarifikasi lebih lanjut,” ungkap Phat Sareth.

Sengketa Wilayah dan Penyelesaian Konflik

Sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama lebih dari dua dekade, terutama terkait dengan Candi Preah Vihear yang terletak di perbatasan kedua negara. Candi ini merupakan situs warisan dunia yang terdaftar oleh UNESCO, namun klaim masing-masing negara terhadap wilayah sekitar candi tersebut seringkali memicu ketegangan.

Pada tahun 2008, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa Candi Preah Vihear adalah bagian dari Kamboja, namun Thailand tidak menerima keputusan tersebut dan menganggap wilayah sekitar candi masih menjadi bagian dari kedaulatannya. Sejak saat itu, kedua negara sering terlibat dalam bentrokan militer kecil di wilayah yang sengketa.

Meskipun terdapat upaya-upaya diplomatik untuk menyelesaikan masalah ini, perbatasan yang tidak jelas dan ketegangan politik internal di kedua negara seringkali memperburuk situasi. Gencatan senjata yang baru-baru ini disepakati seharusnya menjadi langkah menuju perdamaian, namun pelanggaran seperti yang dituduhkan oleh Thailand menunjukkan bahwa masih ada ketidakpercayaan yang dalam di antara kedua negara.

Dampak bagi Stabilitas Kawasan

Pelanggaran terhadap gencatan senjata yang baru saja disepakati ini tentunya menjadi kekhawatiran tidak hanya bagi Thailand dan Kamboja, tetapi juga bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tengah berupaya menjaga stabilitas regional. Ketegangan antara kedua negara ini berpotensi mengganggu kerjasama ekonomi dan politik yang telah terjalin, serta memperburuk hubungan antarnegara di kawasan tersebut.

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian di kawasan, segera mengeluarkan pernyataan yang meminta kedua negara untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. ASEAN menegaskan bahwa kekerasan dan ketegangan yang terjadi di perbatasan Thailand dan Kamboja bisa merusak upaya bersama untuk menjaga stabilitas dan keamanan regional.

“ASEAN mengingatkan Thailand dan Kamboja untuk menghormati perjanjian perdamaian dan kembali ke dialog. Kekerasan hanya akan merugikan kedua belah pihak dan mengancam perdamaian di kawasan,” ujar Sekretaris Jenderal ASEAN, Lao Xian, dalam pernyataan tertulisnya.

Skintific